Sunday, October 25, 2009

STOLP Acroduster

Jika diibaratkan lagu, pesawat dengan sayap ganda memiliki dua reffrain dan mengalami dua kali overtune.

Ini adalah proyek bi-plane pertama. Pilihan jatuh pada STOLP karena bentuk aslinya yang aduhai, sampai sekarang wujud aslinya masih sebagai pilihan para pilot akrobatik disana. Ibarat lagu, tentunya Kawan tahu Sunrise yang dilantunkan Norah Jones.

Pada kesempatan ini akan dicoba mengulas pembuatan lebih rinci, secara urut, dan reader-friendly. :-P

Dari gambar dua dimensi yang ada, dibuat skala. Terserah saja berapa, asal power dirasa cukup secara empiris. 

Mulai membuat pola dari karton kemudian di bentuk pada foam 6mm. Sedikit interupsi, ada beberapa keuntungan jika terlebih dulu membuat potongan pola dari karton. Pertama, pencetakan fuselage untuk sisi kanan dan kiri relatif bisa sama persis, hal ini mengurangi risiko asimetris. Kedua, jika suatu saat pesawat crash, bisa dibuat lagi dengan waktu lebih cepat. Ketiga, foam yang akan dipotong akan lebih bersih karena minim coretan. Keempat, masih ada "arsip", jika ada diantara Kawan yang menginginkan ukuran plane. 


Setelah semua bagian lengkap, maka dimulai tahap perakitan. Pengeleman menggunakan Araldite™  yang warna merah. Selama menunggu lem kering, fiksasi penempelan menggunakan jarum pentul aneka warna yang biasa digunakan dalam dunia jahit-menjahit. 


Setelah selesai fuselage, pengeleman berlanjut ke elevator/ stabilizer dan fin/rudder.


Pushroad bisa dibuat dengan menggunakan kawat baja, atau stik mie yang disambung dengan kawat klip ukuran jumbo. 

Pembuatan wing memiliki kesulitan tersendiri, oleh karena perkiraan posisi sayap atas dan bawah harus memperhitungkan sudut. Setelah sayap selesai disatukan, sekaligus dibuat sistem aileron dan lengan ayunnya. 

Kira kira jadinya bakal seperti berikut.

Setelah dikerjakan di bagian sana-sini, maka terwujudlah...


Cek lagi di posyandu untuk timbangannya:



Saatnya test flight dilapangan. Menggunakan batere LiPo 3 sell, tenaga Brushless 2208, propeller 8x6. *Tak lupa memanjatkan doa* Ibarat lagu, adalah lantunan Dina Mariana: Dag dig dug! 

Preflight check, tower admittance, taxi, runway clear...

Then, let's rogging buddy... 

Kesimpulan: terkesan masih low power, sedikit nervous akibat demam panggung. Tapi yang jelas: bisa terbang.

Saatnya finishing warna. Dipilih merah putih, menyesuaikan karakter warna bendera nasional. 



Lagu apapun terasa indah kalau sudah begini.



Wednesday, September 9, 2009

REDYELLOWING

Niat awalnya adalah membuat pesawat yang karaternya mudah untuk manuver tapi juga gampang recover sendiri. Masih dengan ilmu kiralogi, terwujudlah ide low wing berikut:



Selanjutnya mengalami perbaikan *tentu saja karena crash*. Terpaksa merestore fuselage separo depan. Berhubung foam kuning sudah out stock terpaksa ganti warna merah, jadi belang. Lebar penampang fuselage dikurangi 2 senti agar mengurangi drag, jadi sekitar 6 senti.



Bener saja. Roll, invert, loop dan gerakan ngebor jadi membuat ketagihan. Dan yang penting, recovernya gampang karena dihedralnya yang ajib ditambah chord wingnya lebar. Copotan WD gitu loh.
Baru merasakan yang namanya terbang level pakai armada ini. Benar-benar lurus, rus.



Kalau sudah begini, jadi eman-eman mau ngutak-atik, takut bermasalah. Siap digendong kemana-mana untuk lebaran nanti!

Spec:
WS 108 cm
Motor Brushless 2049
Propeller 1047
Battery LiPo 3 cells.

Piper J-3 Cub



Ini merupakan pesawat yang dibuat dengan plans. Tentu saja hasilnya lebih halus dan manusiawi. WS 96 cm, dibulatkan jadi satu meter :) , wing dibuat flat bottom monohedral.
Hiks, capture-nya terbatas.

Kehabisan stok BL nganggur, jadi pakai Motor Brushed ex- WD. Handlingnya rada sulit karena tanpa dihedral. Sayangnya waktu maiden tidak ada fotografernya.

Wednesday, April 15, 2009

Milyuner Slumdog

At a glance. Film yang mengisahkan Jamal Malik, si miskin dari pemukiman kumuh di Mumbai. Hidup keras sedari kecil dengan kakaknya, Salim. Kemudian si gadis –yang juga kumuh- bernama Latika mulai masuk dalam cerita, dialah pujaan hati Jamal Malik. Menginjak remaja, kakak beradik yang mulai berbeda prinsip ini berpisah. Salim dan Latika terjebak dalam lingkaran kelompok jahat. Sedangkan lakon cerita, Jamal Malik, menelusuri hidup yang lebih putih, meskipun tidak paham baca tulis tapi pernah bekerja sebagai lelaki kantoran: Office Boy.

Pada masa yang sama, kuis Who Wants To Be A MIllionaire [WWTBAM] merupakan tayangan yang mempunyai rating tinggi, tak ada yang melewatkan acara ini. Tanpa diduga, Jamal Malik yang buta huruf dan minim iptek itu mulus menjawab pertanyaan di kursi panas, hingga sempat dituduh sebagai penipu. Pada akhir cerita Jamal Malik dapat memenangkan kuis itu dan pergi membawa Latika yang menjadi pujaan hatinya sejak bertemu.

Maka, ini film yang kreatif karena menggabungkan lebih dari satu garis waktu dan kejadian. Dua, ah maaf, bahkan tiga. Garis waktu yang paling pendek adalah tayangan WWTBAM yang di pandu oleh Anil Kapoor, dengan selingan beberapa adegan interogasi Kepolisian lokal. Garis kedua adalah perjalanan Salim dan Latika selama menjadi anak buah tokoh gangster kaya raya, Javid Khan. Berikutnya yang paling panjang adalah garis waktu hidup Jamal Malik beserta kawan – kawan sedari kecil. Dari sini, setiap kejadian dan pengalaman hidup tak terduga bagaikan mozaik yang kemudian muncul dalam pertanyaan dalam acara WWTBAM. Ketiga alur tersebut dengan kecepatan yang berbeda, pada akhirnya bergabung menjelang akhir cerita. Ini menjadi kelebihan yang tak terdapat pada film pasaran lainnya.

Isi film itu sendiri, banyak adegan tentang realita kerasnya hidup kaum pinggiran kumuh – anak jalanan – exploitasi anak – dan lain sebagainya. Sarana air bersih yang jauh dari seharusnya, kemiskinan yang sangat dekat dengan penyakit, bisnis bromocorah dan prostitusi. Potret standar negara berkembang, tak kurang dari bagaimana Indonesia, Bangladesh, Afrika, dan yang setara. Miris sekali menyaksikan kengerian kejahatan jalanan dan kelompok. Sangatlah wajar jika eksploitasi semacam ini ditentang oleh sebagian kalangan di Mumbai, karena mereka mengklaim tidak sepenuhnya kota tersebut sesuai persis dengan penggambaran di film ini. Tentang kenakalan Jamal Malik dan Salim sedari kecil sampai remaja, ditunjukkan oleh pembuat film sebagai dampak situasi yang tidak stabil, sistem, persaingan antar ras, kekacauan hidup serta kemiskinan. Kenakalan mereka, bagaimanapun, tergolong tindakan kriminal berupa pencurian dan penipuan. Namun demikian, itu semua merupakan kejahatan paling superfisial, sangat jelas, tanpa konspirasi apapun. Mendapatkan kue curian, langsung masuk perut. Jika mendapatkan uang lalu dibelikan makanan, masuk perut lagi. Kemudian lapar lagi, lantas mencuri lagi. Berbeda dengan kejahatan berbintang yang dikemas dengan dalih yang rapi demi tujuan pemaksaan ideologi dan kepercayaan kelompok, kepentingan ekonomi, penghapusan ras tertentu maupun tujuan kekuasaan semata.

Kegembiraan saat memenangkan WWTBAM merupakan bumbu film yang standar, mengingat ya demikianlah seharusnya film. Sebagaimana pada dunia nyata, kepedihan di masa lalu dapat membuahkan tawa dimasa yang akan datang. Si jahat yang tukang khianat, disadari atau tidak, kalaulah sudah keterlaluan akan menuai petaka. Yang paling mengesankan adalah, secuil pengalaman dan pemandangan masa lalu bagaikan mozaik di dinding yang dapat terlihat bahkan dicongkel pada suatu saat nanti dimasa depan, dan mendapatkan pasangannya. Tapi memang tidak semua orang dapat merasakan (mengingat)-nya. Manusia normal yang memiliki kecerdasan lebih pasti dapat mengingatnya, contohnya si Ikal dalam Laskar Pelangi. Manusia yang lebih hebat lagi bahkan dapat menata rapi setiap mozaik yang ada dalam pikirannya sehingga dapat dengan mudah diambil, bagaikan susunan buku di perpustakaan, mereka-lah golongan autis. Sayangnya kelompok ini masih dianggap tidak normal.
Kembali pada Slumdog Millionaire, Dev Patel sangat pas memerankan Jamal Malik dewasa, penokohan yang sangat baik. Untuk pemeran wanita mestinya banyak aktris India yang lebih cantik untuk memerankan Latika dewasa. Latika tidak lebih cantik daripada ibunda si Jamal Malik. Tapi ada benarnya diperankan oleh Freida Pinto, karena perjalanan hidup yang keras sangatlah tidak mungkin seorang Latika mempunyai wajah yang rupawan. Memikat, itu sudah cukup.
Film India dulu hanya berisi tiga hal. Yaitu: Inspektur Vijay, Tuan Takur, dan pasangan muda dimabuk asmara bermain ciluk-ba dibalik pohon. Setidaknya demikianlah yang dahulu kala setiap hari diputar di TPI pada masanya. Tetapi Kawan, film ini berbeda, lebih jenius. Tetapi, dasar film India, tetap saja ada acara menyanyi dan joged massal. Koreografi macam ini menjadikan film ber-genre megah menjadi tercemar. Hanya saja, kali ini agak lebih baik karena adegan joged hanya sekali, di stasiun kereta dan diletakkan di bagian penutupan. 

Monday, January 19, 2009

MYT-05 (Mimpi Yang Tertunda)


Proyek di pertengahan januari ini adalah pembuatan armada homemade.
Spec:

Wing Span = 120 cm, chord = 20 cm
Length = 90 cm

AUW = 500 gram (tanpa batere)
Servo = 4 buah
Motor = 2049 Brushless

Batere = LiPo 2200 mAH, 20 C, 3 Cell (11.1v)
Propeller = 90 x 60 (Air Screw Master™)
Proses pembuatan tanpa plans , hanya menggunakan ilmu Kiralogi, dan dituangkan dalam program "Freehand" alias tangan bebas! Sayangnya, foto-foto saat pembuatan tidak bisa ditampilkan dengan baik, berhubung ada kendala pada hasil dokumentasi pemotretan. Maklum, kamera tidak pernah di-imunisasi, jadi kena infeksi virus. (haha)
Beberapa foto yang tersisa:

Proses penempelan stiker dan penyematan nama.


Mejeng mumpung masih utuh.


Semua serba hijau. Kecuali kolor, warna putih. Karena masyarakat pernah traumea dengan Kolor H*jau.(sstt..)


Oke, boy... ready to fly!


Hik, MYT-05 paling
nelongso diantara T-Rex (doh)




Langsung pada kesimpulan:
1. Pesawat ini terlalu berat, apalagi dengan LiPo 3 Sel menjadi 700 gram. Karena konon thrust untuk motor 2049 hanya 440gram. Pada saat pembuatan sudah tidak yakin bakal terbang. Tapi karena sayap sudah terkembang pantang digulung kan?
2. Percobaan saat maiden, ternyata mendapatkan daya angkat yang baik. Kurang responsif, maklum high wing.

Thursday, January 1, 2009

WL-666


Seperti membuat baju, tahap pertama yaitu pembuatan pola. Pola yang dipakai adalah Challenger emisi tahun 2004. Secara perkiraan, diaplikasikan pada polifoam warna putih setebal 3mm, dimulai dari dinding samping, kemudian tutup atas dan bawah. Pengeleman menggunakan Araldite. Jadilah fuselage dengan panjang 60 cm.
Rudder dan elevator dibuat dari bahan sejenis. Hinge menggunakan plastik transparansi OHP, dipotong ukuran 2x4 cm dan diberi lobang agar lem bisa merekat dengan baik.



Pada bagian dalam -sisi kiri dan kanan- dilapisi dengan coroplast warna biru agar bodi lebih kuat, terutama pada bagian yang ditusuk stik sumpit sebagai pegangan main wing.
Mounting untuk motor menggunakan tripleks melamine setebal 3mm yang ditempelkan pada styrofoam 3cm, dilem pada sisi dalam coroplast. Cowl sengaja tidak dibuat karena akan menyulitkan perbaikan setelah mengalami crash *antisipasi pemikiran yang buruk* :D


Sayap menggunakan properti WD bekas yang sudah dimodifikasi. Wing Span dikurangi 2x2cm, Chord dikurangi masing-masing 2cm pada bagian leading edge dan tail edge. Flap untuk aileron: 2cm.


Landing gear menggunakan roda bekas WD, dengan lengan yang dibuat dari kawat payung bekas, ditekuk sesuai selera. Pada pesawat ini dibuat agak jangkung, mengingat jenisnya yang low wing, agar tidak mudah rusak terkena rumput atau kerikil. Dan lagi, untuk pemakaian propeller yang berdiameter panjang pun tidak nyangkut ke tanah. *Propeller 9x6*


Pengecatan, menggunakan cat styrofoam dengan pola acak tidak simetris. Tahap terakhir yang paling mengesankan adalah memberikan nama. Saat 2 jam menjelang pergantian tahun baru 2009 maka di sematkanlah sebuah nama: Wingardio Leviosa - 666





Penerbangan perdana. Dilakukan dibawah supervisi Pak Setyo Antarikso, Asisten On Loop: Carox, Fotografer: Iwing.
Seperti biasa dimulai dengan stall, kesulitan menghadapi crosswind, disorientasi dan kepanikan. Lem sana sini. Rogging kesekian kalinya, dan..... terbang! Seksi, benar benar seksi sekali!! Loop dan banking sangat cepat. Sayangnya, foto saat mengangkasa belum bisa di upload kesini, secara belum bisa bayar biaya fotografer sih.. (lol)





Kesimpulan: Cukup glide, responsif, keringatan, lega.
Saran dari supervisor: chord elevator kurang lebar. Agar lebih mudah dikendalikan, fuselage bisa ditambah 5-10cm, tapi flap elevator dibuat lebih lebar.



Ucapan terimakasih:
1. Mr.Nedi & Mr.Setyo untuk semangat dan bimbingannya
2. Carox: untuk radio, teh panas, cat & kuas. Serta propeler dan LiPo 3 Cell *borongan*
3. Iwing: nice shoot! *meskipun sebagian besar kebetulan*
4. Leppy: for the name.


Friday, August 29, 2008

WHO Anthro 2005




This software is intended for use to assess child nutritional status, to follow a child’s development and growth overtime, or to conduct and analyse nutritional survey. Beta version named WHO Anthro 2005, officially released by WHO February 2006. As always, I am 2 years late :( . On last June, as the participant of regional meeting at the Municipaly Health Board, I heard from the speaker Mr. J.C. Susanto, MD.Paed, about the software to asses nutritional status. I can’t hear clearly, it’s all because my bad habit: always sit at back rows :) .


Good news is: Who Anthro available for mobile device, work properly to PPC Windows Mobile 2003, but I have not try to install to both previous version (WM2002) or later (WM5, WM6). For PalmOS and Symbian user: be patient please… :)
Like the PC version, it consist of three main assessment:
-Anthropometric Calculator
-Individual Assessment
-Nutritional Survey
Unfortunately, my ScreenCapture application (like PrintScreen on PC) was out of order, so I can’t perform image or screenshoot here.

With Anthropometric calculator, we just enter the value of subject’s date of birth, sex, weight and height. In seconds the aplication display results in cartesian diagram. Length (or height) as horizontal axis and weight as the vertical, complete with seven guidance line in different colour refer to Standar Deviation value (based on Z score) for the subject. The lines colored green (Median), yellow (SD+/-1), red (SD+/-2) and black (SD+/-3). For ones weren’t familiar work with Z-score, there is option to change display in percentile. HC, TSF, MUAC and SSF (if possibly measured) are better entered as input for the device to calculate exactly. Result can also views as table.
On Individual Assessment we can record more children as database, so we know the progress of each child after the treatment or just sight follow up. The more child community database can synchronize with PC, of course by ActiveSync.

Tuesday, August 19, 2008

Google Maps

Meanwhile, GoogleMaps for pocket PC not only show satellite's imaginary. But also shows our position versus the maps. Our device position marked by blinked blue dot. The accuracy of position in low speed moving (eg: walking) about 0 to 15 meters. Track pathways can not be drawn here. It is all about position on the map. Maps must be downloaded from google server at the time, its cost depends on network operator via GPRS connection. That's why synchronization between GPS satellite receiver and maps couldn't work well if the device move more than 60 kmph (on the vehicle).

Bringing handset with built-in GPS receiver felt like spy agent :)



Sunday, August 17, 2008

BeeLineGPS

This is one of many GPS software for PPC. Download from their site. For the newbie (at least like myself), this software felt user friendly. This application is automatically load data in a few seconds from GPS receiver. Satellite's signal strength shown as the blue bar above the satellite number. In seconds later, it calculate data and shows three value for main position: latitude, longitude and altitude. Like the Three Musketeers!

If the screen below the bar tapped, it displayed value for NMEA required (HDOP, VDOP, PDOP), how many satellite in view and how many satellite above tracked. Shown as figure below:

Once again screen tapped, it shows satellites position. Tracked satellite displayed in red color, while the untracked ones displayed in pale:

On "Map" menu, it shows only track we've through passed. It supposed more exciting if there was map plug-in installed. If not, background screen shows only scaled squares. It works when the device in moving. The more it move, the more it quick-calculate direction in compass (gray arrow) and speed (black box).

Tap on menu "Panel", it can be set as compass or speedometer or even both simultaneously.

There are many feature that i can describe clearly here. About waypoint setting and much more.